eksilt
Home MG

Cover MG

Login MG






Lost Password?
No account yet? Register

YM=majalah_gontor

Map

Locations of visitors to this page

Calender Clock

Polling MG

Darimana Anda tahu Majalah Gontor?
 

Who's Online

MG-ShoutBox

Newsflash

* Hanya orang-orang penting yang tahu kepentingan. Hanya pejuang-pejuang yang tahu arti perjuangan.
 
KH Achmad Djauhari Chotib
Written by Sofyan Badrie/MG   
August, 25th 2009

Pengabdian Total Kyai Prenduan  

Sejarah berdirinya pondok pesantren Al-Amien Prenduan, Madura, tak bisa dilepaskan dari sosok KH. Achmad Djauhari Chotib. Dialah putra ketujuh dari Kyai Chotib, yang mampu mewujudkan ide dan cita-cita ayahnya: mendirikan sebuah pesantren yang bermanfaat untuk umat.

Lahir di Congkop, Prenduan, 1905, KH. Djauhari dilahirkan kembar dengan nama Muhammad Amien. Saudara kembarnya, Siti Aminah, wafat ketika berusia 3 tahun. KH. Djauhari sendiri dikenal sebagai anak yang cerdas. Jadi meski tak mengenyam pendidikan formal, kepandaiannya tak diragukan lagi. Pada usia relatif muda, ia telah banyak menguasai berbagai jenis kitab kuning.

Garis hidup mengantarkannya berangkat ke Makkah tahun 1920 (saat berusia 15 tahun). Selama di sana, ia banyak menimba ilmu pada Syekh Muhammad bin Abdul Hamid Alfuty.  Nama “Djauhari” sendiri ia dapatkan di Makkah.
Read more...
 
Memupuk Obat Penawar Mabuk Barat
Written by Luqman Hakim Arifin   

Pandangan dan sikap hidup yang positif, disertai hati bersih yang selalu ingat dan mengabdi kepada Allah merupakan kunci sukses setiap Muslim agar tidak terjebak pada ketidakbermaknaan hidup. Praktiknya memang tidak semudah pengucapannya.

Etika peradaban Barat mengalami kejayaannya seperti sekarang ini, menjadi sosok Muslim sejati bukanlah hal yang mudah. Ada konflik nilai yang kerap bersinggungan dan bertabrakan, dan kalaupun tidak bertabrakan, ada nilai-nilai atau suasana hidup yang tak bisa diterima secara ikhlas oleh batin kita.

Godaan hedonisme ala Barat yang—memandang kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama hidup—sudah sedemikian kuatnya merasuk dalam kehidupan kita sehari-hari, dan itu sungguh bukan hal yang mudah untuk ditolak. Ukuran kemanusiaan pun menjadi sangat bendawi.

Apalagi, ditambah dengan gempuran konsumtivisme yang terus-menerus menyerbu diri kita melalui medium iklan, tontonan televisi, dan gaya hidup. Tak heran, dan ini yang paling parah, sadar atau tidak, saat ini kita juga sering kali terjebak untuk “me-Tuhan-kan” hal-hal yang sifatnya material itu, baik yang berkaitan dengan harta, kedudukan, kekuasaan, ataupun wanita.
Last Updated ( October, 16th 2009 )
Read more...
 
Wakaf Perumahan, Kenapa Tidak?
Written by Fathurroji NK   
August, 25th 2009

Tahun 2007 harta wakaf dalam bentuk tanah di Indonesia mencapai 2,7 miliar meter per segi dan tersebar di 466.595 lokasi. Sayangnya, penggunaan tanah wakaf seluas itu masih jauh dari harapan. Wakaf perumahan untuk fakir miskin dapat menjadi alternatif pilihan.  

Data termutakhir penggunaan tanah wakaf menunjukkan, sebagian besar tanah wakaf dipakai untuk tempat ibadah, yakni 68 % , untuk pendidikan 8,51 %, areal pemakaman 8,40 %, dan untuk lain-lain 14,60 %. Padahal, tanah wakaf seluas itu bisa saja dipakai untuk membangun perumahan bagi kaum fakir miskin.

Menurut Menteri Negara Perumahan Rakyat Mohammad Yusuf Asy’ari, hingga saat ini kita masih banyak menemukan keluarga yang belum memiliki rumah tempat tinggal yang layak huni. Permasalahan ini, imbuh Yusuf, antara lain karena sumber-sumber pembiayaan sangat terbatas.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>

Results 1 - 4 of 6